Minggu, 09 Oktober 2011

obat pneumonia

Waspada Pneumonia, bukan sekedar Panas Batuk Pilek.
PneumoniaKeluhan panas, batuk, pilek sering menimpa anak-anak kita terutama pada usia di bawah 5 tahun (balita). Sebagian keluhan tersebut disebabkan virus dan sembuh dengan sendirinya (self limited).
Para orang tua patut waspada dan segera membawa ke dokter, Puskesmas atau Rumah Sakit ketika si kecil menunjukkan tanda “peringatan” seperti: gelisah, rewel, napas menjadi cepat dan sesak, selain panas, batuk, pilek. Bukan tidak mungkin keluhan-keluhan tersebut merupakan manifestasi penyakit Pneumonia.
:: :: PENGERTIAN :: ::
Pneumonia adalah infeksi akut jaringan (parenkim) paru yang ditandai dengan demam, batuk dan sesak napas.
Selain gambaran umum di atas, Pneumonia dapat dikenali berdasarkan pedoman tanda-tanda klinis lainnya dan pemeriksaan penunjang (Rontgen, Laboratorium).
Pada usia anak-anak, Pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Angka kematian Pneumonia pada balita di Indonesia diperkirakan mencapai 21 % (Unicef, 2006). Adapun angka kesakitan diperkirakan mencapai 250 hingga 299 per 1000 anak balita setiap tahunnya. Fakta yang sangat mencengangkan. Karenanya, kita patut mewaspadai setiap keluhan panas, batuk, sesak pada anak dengan memeriksakannya secara dini.
:: :: PENYEBAB :: ::
Sebagian besar penyebab Pneumonia adalah mikroorganisme (virus, bakteri). Dan sebagian kecil oleh penyebab lain seperti hidrokarbon (minyak tanah, bensin, atau sejenisnya) dan masuknya makanan, minuman, susu, isi lambung ke dalam saluran pernapasan (aspirasi).
Berbagai penyebab Pneumonia tersebut dikelompokkan berdasarkan golongan umur, berat ringannya penyakit dan penyulit yang menyertainya (komplikasi).
Mikroorganisme tersering sebagai penyebab Pneumonia adalah virus, terutama Respiratory Syncial Virus (RSV) yang mencapai 40%. Sedangkan golongan bakteri yang ikut berperan terutama Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae type b (Hib).
Awalnya, mikroorganisme masuk melalui percikan ludah (droplet), kemudian terjadi penyebaran mikroorganisme dari saluran napas bagian atas ke jaringan (parenkim) paru dan sebagian kecil karena penyebaran melalui aliran darah.
:: :: TANDA-TANDA :: ::
Tanda-tanda Penumonia sangat bervariasi, tergantung golongan umur, mikroorganisme penyebab, kekebalan tubuh (imunologis) dan berat ringannya penyakit.
Pada umumnya, diawali dengan panas, batuk, pilek, suara serak, nyeri tenggorokan. Selanjutnya panas makin tinggi, batuk makin hebat, pernapasan cepat (takipnea), tarikan otot rusuk (retraksi), sesak napas dan penderita menjadi kebiruan (sianosis). Adakalanya disertai tanda lain seperti nyeri kepala, nyeri perut dan muntah (pada anak di atas 5 tahun).
Pada bayi (usia di bawah 1 tahun) tanda-tanda pnemonia tidak spesifik, tidak selalu ditemukan demam dan batuk.
Selain tanda-tanda di atas, WHO telah menggunakan penghitungan frekuensi napas per menit berdasarkan golongan umur sebagai salah satu pedoman untuk memudahkan diagnosa Pneumonia, terutama di institusi pelayanan kesehatan dasar.
Tabel: Pedoman Perhitungan Frekuensi Napas (WHO)
:: Umur Anak :: :: :: Napas Normal :: :: :: Takipnea (Napas cepat) ::
:: 0 – 2 Bulan :: :: :: 30-50 per menit :: :: sama atau > 60 x per menit
:: 2-12 Bulan :: :: :: 25-40 per menit :: :: sama atau > 50 x per menit
:: 1- 5 Tahun :: :: :: 20-30 per menit :: :: sama atau > 40 x per menit
Catatan:
Perbedaan batasan tentang frekuensi napas dari berbagai sumber, menurut penulis tidak terlalu penting. Yang perlu diperhatikan adalah penilaian klinis dan pemeriksaan penujang misalnya: rontgen dan laboratorium serta follow up selama masa perawatan.
:: :: PENGOBATAN :: ::
Pengobatan ditujukan kepada pemberantasan mikroorganisme penyebabnya. Walaupun adakalanya tidak diperlukan antibiotika jika penyebabnya adalah virus, namun untuk daerah yang belum memiliki fasilitas biakan mikroorganisme akan menjadi masalah tersendiri mengingat perjalanan penyakit berlangsung cepat, sedangkan di sisi lain ada kesulitan membedakan penyebab antara virus dan bakteri. Selain itu, masih dimungkinkan adanya keterlibatan infeksi sekunder oleh bakteri.
Oleh karena itu, antibiotika diberikan jika penderita telah ditetapkan sebagai Pneumonia. Ini sejalan dengan kebijakan Depkes RI (sejak tahun 1995, melalui program Quality Assurance ) yang memberlakukan pedoman penatalaksaan Pneumonia bagi Puskesmas di seluruh Indonesia.
Masalah lain dalam hal perawatan penderita Pneumonia adalah terbatasnya akses pelayanan karena faktor geografis seperti Kaltim. Lokasi yang berjauhan dan belum meratanya akses tranportasi tentu menyulitkan perawatan manakala penderita pneumonia memerlukan perawatan lanjutan (rujukan) di RS.
:: :: TIPS PENCEGAHAN :: ::
Mengingat Pneumonia adalah penyakit beresiko tinggi yang tanda awalnya sangat mirip dengan Flu, alangkah baiknya para orang tua tetap waspada dengan memperhatikan tips berikut:
  • Menghindarkan bayi (anak) dari paparan asap rokok, polusi udara dan tempat keramaian yang berpotensi penularan.
  • Menghindarkan bayi (anak) dari kontak dengan penderita ISPA.
  • Membiasakan pemberian ASI.
  • Segera berobat jika mendapati anak kita mengalami panas, batuk, pilek. Terlebih jika disertai suara serak, sesak napas dan adanya tarikan pada otot diantara rusuk (retraksi).
  • Periksakan kembali jika dalam 2 hari belum menampakkan perbaikan. Dan segera ke RS jika kondisi anak memburuk.
  • Imunisasi Hib (untuk memberikan kekebalan terhadap Haemophilus influenzae, vaksin Pneumokokal Heptavalen (mencegah IPD= invasive pneumococcal diseases) dan vaksinasi influenzae pada anak resiko tinggi, terutama usia 6-23 bulan. Sayang vaksin ini belum dapat dinikmati oleh semua anak karena harganya yang cukup mahal.
Semoga uraian singkat ini bermanfaat.
Bacaan:
  • Pneumonia: The Forgotten Killer of Children, WHO, ISBN: 92-806-4048-8, September 2006
  • Pneumonia, Continuing Education, IKA XXXI, Retno Asih S, Landia S, Makmuri MS, FK Unair, RSUD Dr Soetomo, 2006
  • Management of Pneumonia in Community Settings, WHO-Unicef, 2004
  • Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak, IDAI, edisi I, 2004
Topik Terkait:

10 Besar Penyakit Terbanyak di Indonesia

10 BESAR PENYAKIT TERBANYAK PADA PASIEN RAWAT JALAN RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2009:

Tabel 1: Pola 10 besar penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit seluruh Indonesia tahun 2009.
Sumber: Kementerian Kesehatan RI, 2010.


10 BESAR PENYAKIT TERBANYAK PADA PASIEN RAWAT INAP RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2009:

Tabel 2: Pola 10 besar penyakit terbanyak pada pasien rawat inap di Rumah Sakit seluruh Indonesia tahun 2009.

Sumber: Kementerian Kesehatan RI, 2010.

Terlihat bahwa berdasarkan Case Fatality Rate (CFR), penyakit yang memiliki CFR paling tinggi di antara 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat inap di RS adalah Pneumonia sebesar 6,63%. Hal ini dapat diartikan bahwa berdasarkan tingkat kefatalannya, pneumonia merupakan penyakit pembunuh nomor satu di Indonesia.


penyakit tergila

Empat penyakit manusia jaman sekarang antara lain :
 
1.Ogah-Prihatinis (Ogah-Menderitasis)
Penyakit yang disebabkan oleh Virus SSG (Suka-Suka Gue) ini gampang menyerang pada anak-anak remaja, tetapi kalau tidak hati-hati, orang tua pun bisa kena.
Gejala-gejalanya : - Biasanya nafsu makan tinggi, badan cepat besar, bongsor, gemuk, dan bawaannya pingin happy-happy, senang-senang melulu dan ogah menderita. - Malas, lesu dan badan mudah capek dalam bekerja atau belajar, maka biasanya pasien menjadi lebih suka menonton daripada membaca atau bekerja. - Sebagai akibatnya daya tahan tubuh turun, mudah ngantuk, mudah lupa dan akibatnya akan menaikkan kadar kolestotol (Biasanya disebut jerawat). Penyakit ini susah disembuhkan. Sampai sekarang ini belum ada obat yang manjur untuk mengatasinya. Ini sangat merepotkan keluarga, guru, pasangan hidup, bahkan Tuhan pun pusing!
 
2. Gila-Hartanitis
Penyakit ini dsebabkan olah Virus HUV (Hidup Untuk Verut). Biasanya menyerang kaum dewasa yang sudah bekerja, alias tahu duit. Lebih ganas daripada anjing gila ataupun sapi gila.
Gejala-gejalanya : - mata menjadi hijau (Alias mata duitan!) - Tenggorokan kering dan terasa haus terus (Haus uang, haus barang, haus sukses, dll.) - Susah tidur, otak berputar-putar terus! - Pasien ini hanya bisa tidur 3-4 jam saja sehari. - Kalau sudah parah, penyakit ini akan membuat pasiennya hilang ingatan. Maka perlu cepat-cepat dilarikan ke tempat-tempat ibadah. Jika perlu, setelah konsultasi dengan dokter, boleh juga diminta opname di pondok pesantren.
 
3. Gengsianisis Penyakit imi menyerang segala umur, dari anak2 sampai oma2. Penyakit ini ditularkan dari mulut ke mulut, dan juga lewat layar kaca. Penyebab belum terdeteksi, nampaknya asli dari dalam dari sendiri, setan pun kagak tau…
Gejala-gejalanya - Kepala mendongak keatas, wajah menyeramkan, dan gampang marah, karena penyakit ini menyerang otak pengendali rasa malu dan menaikkan kadar sombongsit sehingga pasien akas merasa lebih dari yang lainnya. - Khusus untuk pasien berusia muda, penyakit ini membuat pasien alergi terhadap terik matahari, suka yang halus-halus saja, serta demen di ruangan ber-AC, berjam-jam di salon, doyan jamu-jamuan, lotion dan segala perawatan tubuh. Kalau sudah parah, penyakit ini bisa sungguh amat sangat menakutkan. - Pasiennya gampang lupa, lupa pada dirinya, lupa pada temannya dan lupa pada “Pencipta”-Nya.
 
4. Shopping Syndrome Penyakit ini biasa menyerang kaum wanita, terutama umur 17-55 tahun.
Gejala-gejalanya : - Kalau melihat baju dan sepatu baru, mata susah berkedip, wajah berbinar-binar, tangan gemetaran dan mulut ngiler. - Kaki tak bisa diam, tak betah dirumah, dan pingin keluyuran mulu ke supermarket. Kalau sudah parah, penyakit ini tidak tanggung-tanggung serangan : - Stadium 2 : Dompet sendiri. - Stadium 3 : Dompet teman alias ngutang. - Staduim 4 : Dompet suami bisa amblas.
 
http://jelajahunik.blogspot.com/2011/02/empat-penyakit-teranyar-saat-ini-must.html